Konsekuensi Ketika Berpacaran dengan Sahabat Sendiri

Konsekuensi Ketika Berpacaran dengan Sahabat SendiriMenjalin hubungan asmara cinta tentunya membuat kedua pasangan akan diberikan kesenangan tersendiri akan tetapi tidal sampai disitu kita melihat dulu bagaimana mereka menjalaninya jika tidak ada pengertian antara satu dengan yang lain maka hubungan itu tidak akan berlangsung lama. Semua orang tahu jika menjalin hubungan cinta tetunya memiliki rintangan tersediri, baik menjalin cinta dengan pria baru atau sahabat lama. Menurut psikolog klinis dewasa, Wulan Ayu Ramadhani, M. Psi, menjalin hubungan asmara dengan sahabat sendiri akan lebih kompleks daripada berpacaran dengan pria yang baru kenal.

“Jika anda disuruh memilih antara berpacaran dengan orang lain dari pada pacaran dengan sahabat sendiri kalian akan memilih yang mana? Pastinya kalian akan memilih pacaran dengan orang lain karena sebetulnya pacaran dengan sahabat memiliki konsekuensi tersendiri apalagi jika kehilangannya maka akan lebih menyakitkan. Kalau dengan orang baru investment dalam relationship-nya belum terlalu banyak. Kalau sama sahabat dia bisa kehilangan yang selama ini ada buat dia,” ujar Wulan.

Psikolog 29 tahun itu menuturkan, kendala yang ada dalam hubungan keduanya juga tidak lebih sedikit daripada berpacaran dengan pria baru. Rintangan terbesar ketika status sahabat berubah menjadi kekasih adalah komunikasi. Seringkali masa adaptasi setelah perubahan status itu menjadi masalah.

Mungkin jikalau berpacaran dengan pria selain sahabat sendiri, Anda akan lebih pengertian karena merasa belum mengenal satu sama lain dan butuh waktu untuk saling mengenal. Berbeda jika menjalin cinta dengan sahabat sendiri, anda sudah merasa saling kenal lalu beranggapan bahwa dia selalu tahu apa yang Anda mau. Ini yang kerapkali menjadi kendala di awal hubungan asmara dengan sahabat Anda.

“Kalau dari sahabat ke pacaran komunikasinya akan sering bermasalah karena mereka lebih lama dekatnya sehingga ekspektasi bahwa ‘sahabat seharusnya lebih mengerti gua’ itu jauh lebih besar daripada dengan orang yang baru ketemu,” tutur wanita lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.

Mungkin banyak orang menganggap bahwa hubungan dari sahabat menjadi pacar lebih mudah dibandingkan membangun hubungan asmara baru dengan orang lain. Kenyataannya sama saja bahkan cenderung lebih sulit. Anda ataupun sahabat tentu memiliki harapan yang lebih tinggi setelah menjadi pasangan kekasih.

Wulan kembali menjelaskan, dalam hubungan romantis Anda sebenarnya dituntut memainkan banyak peran, menjadi adik, kakak, sekaligus kekasih. Ada waktunya di mana Anda juga perlu menjadi sahabat seperti dulu. Namun yang sering terjadi kebanyakan pasangan lupa berperan sebagai teman terdekat setelah status mereka berubah menjadi sepasang kekasih.

“Masa transisi ini krusial banget untuk menentukan hubungan mereka berhasil apa nggak. Misalnya dulu biasa saja kalau pergi ramai-ramai tapi kalau hubungan romantis pengennya pergi berdua. Seringkali yang jadi masalah kadang ekspektasinya saja yang berubah dari status sahabat jadi pacaran,” ujar psikolog yang juga menjadi pendiri dari situs pranikah itu.

Selain masalah timbulnya ekspektasi baru, perubahan kebiasaan antara Anda dan sahabat juga kerap menjadi kendala. Misalnya saja bersentuhan fisik, mungkin saat hubungan masih teman, Anda dan si dia sudah biasa merangkul atau bergandengan tangan. Ketika sudah berpacaran tentu ada ekspektasi lebih yang belum tentu bisa diterima oleh kedua belah pihak. Perubahan-perubahan seperti itu biasanya terjadi diawal hubungan asmara Anda dan sahabat.