Keputusan Move On Itu Lebih Baik

Keputusan Move On Itu Lebih BaikRUMAHREMAJA.COM – Mengapa move on itu sulit? Karena saat hati terluka, pikiran jadi buta tidak tahu harus melangkah ke mana. Jangankan melihat ke depan, berfikir apa yang harus dilakukan detik ini, menit ini, jam ini pun rasanya sulit. Sahabat rumah remaja boleh beri saran hal itu tetapi semuanya hanya enak didengar dan kembali tidak membantu apa-apa saat kamu sedang sendirian. Itu sebabnya kebanyakan orang mengapa move on adalah berusaha untuk melupakan. Sayang sekali, realitanya adalah semakin kamu berusaha melupakan, semakin kamu tenggelam dalam kelam. Dan saat itu kamu harus berani untuk mengambil keputusan ‘move on’.

Aku dan Aldo sedang makan bersama dikantin sekolah saat istirahat. Tiba-tiba datang teman sekelasku yang ikut-ikutan duduk bareng di bangku yang sama.
“ciyeee, baru jadian ya? Haha, kapan nih makan-makannya?” ledek Ari.
“jadian? Sembarangan aja kamu, nggak usah ngaco deh” kataku kesal.
“alah udah deh, nggak usah bohong lagi. Kita-kita udah pada tau kok kalo Alva dan Aldo udah jadian”
“iya va, lagian gossip itu juga udah nyebar kemana-mana. Akuin aja lah, haha” ucap Metha menimpali.
Hah? Gossip? Ternyata kedekatanku dengan Aldo menimbulkan gossip semacam ini, wew.

Suatu hari, aku curhat dengan sahabatku.
“kei, kayaknya aku suka deh sama Aldo” kataku sambil senyum-senyum nggak jelas.
“serius? Apa kamu yakin kalau dia juga suka ama kamu?”
“emm… nggak tau juga sih. Tapi kayaknya dia juga suka aku deh”
“ahh, PD banget kamu va”
“harus itu, haha. Aku yakin karna dia juga kasih perhatian lebih ke aku”
“siapa tau aja kamunya yang ke GR-an”
“ih kok kamu gitu sih? Dukung kek, atau kasih semangat gitu, ini malah ngomong gitu”
“iya deh iya, aku dukung kamu Alva jeleeek” ujar Kiki sambil menjulurkan lidah.
Tak segan-segan aku mengejarnya. Kami pun berkejar-kejaran seperi anak kecil, hingga bel berbunyi dan kami pun berhenti lalu masuk ke kelas.

Tak terasa, waktu terus berlalu. Meninggalkan sejuta kenangan yang tlah dilalui. Sudah lama aku bersama Aldo, tapi sampai sekarang Aldo tidak mengetahui perasaanku yang sebenarnya. Namun, selama itu pula Aldo memberikan perhatiannya dan selalu ada untukku. Aku merasa ia benar-benar menyayangiku. Sebentar lagi kenaikan kelas. Kemungkinan aku tidak akan sekelas lagi dengannya, karna adanya moving class.
Ternyata benar, hasil pengumuman mengatakan bahwa aku tak sekelas lagi dengannya. Aku berada di kelas XI IPA-1 , sedangkan Aldo berada dikelas XI IPA-2. Tapi nggak papa deh, kelasnya jga masih deketan. Masih bisa ngeliat di terus .

Saat itu sedang istirahat. Aku tengah berbincang-bincang dengan Keisha.
“Kei, dia ada diluar nggak ya? Biasanya kan dia nyantai diluar kelas bareng Ari” kataku membuka percakapan.
“entahlah, barangkali dia ada diluar kelas” jawab Keisha.
“emm… eh, aku mau buang sampah dulu ya, kan tong sampahnya diluar, hehe”
“alah, modus! bilang aja mau liat Aldo, iyakan? Udah deh, ngaku aja”
“biarin, nggak papa deh modus, lumayan kan liat muka Aldo. Haha”.
Aku pun berlalu meninggalkan Keisha yang masih cengar-cengir sendiri mendengar kata-kataku barusan. Ketika sampai diluar kelas, sungguh pemandangan yang tak terduga. Aldo tidak bersama dengan Ari, melainkan sedang bersama Tara. Mereka terlihat begitu akrab. Awalnya biasa saja. Namun, lama-kelamaan ada rasa cemburu menyelinap. Aku begitu risih melihat mereka berduaan, terlebih ketike melihat mereka sedikit mesra. Sungguh sebuah pemandangan yang tidak mengenakkan. Iuuh.

Semakin hari kulihat mereka semakin dekat. Bisa kalian bayangin gimana betapa sakitnya perasaan aku *lebay*. Yaa, aku hanya bisa melihat kedekatan mereka dengan penuh rasa kecewa. Setelah ketelusuri tentang kedekatan mereka, ternyata mereka memang berpacaran. Degg, hatiku benar-benar kecewa mengetahui hal itu. Jadi, apa maksud dari semua perhatian yang telah dia berikan selama ini? Ternyata dia Cuma PHP-in aku. Aku bergegas mendatangi rumah Keisha. Disana ku tumpahkan semua dalam tangisku. Keisha hanya bisa prihatin melihatku.

How do I end up in the same old place
Faced again with the same mistakes
So stubborn, thinking I know what is right
But life proves me wrong every time

Taking roads that lead me no where,
How do I expect to get there
But when will I learn to just put you first

I come to you now when I need you
But why do I wait to come see you
I always try to do this on my own
But I was wrong, cause only with you
Can I move on (can I move on)

When I am weak, it’s you that makes me strong
And I know that you’ve been with me all along
So many times I forget to close my eyes
And listen to my heart
With you, life is so easy
Why do I make it hard

Oh, taking roads that lead me no where,
How do I expect to get there
When will I learn to just put you first

I, I come to you now when I need you
But why do I wait to come see you
I always try to do this on my own
But I was wrong, cause only with you
Can I move on

I’ll get out of my own way,
Let you have your way
Cause I realized I’m no good on my own
I’m there for you, I’ll serve for you
I can’t live without you

I come to you now when I need you
Why do I wait to come see you
I always try to do this on my own
But I was wrong, I was wrong, I was wrong,
With only you, only you, with only you
Can I move on, can I move on, can I move on

Lagu itu masih mengalun ketika Keisha mengetuk pintu kamarku. Aku enggan beranjak dari tempat tidurku. Setelah yang kesekian kalinya ketukan pintu itu terdengar, barulah aku berjalan dengan malas-malasan untuk membukakan pintu untuknya. Saat kubuka pintunya, terlihat wajah Keisha beserta senyumannya yang sok manis itu. Hahaha.
“tumben ni, pagi-pagi udah datang kerumahku?” ujarku.
“yee, emang nggak boleh ya? Aku mau nemenin kamu aja, lagian dirumahku juga sepi, orang rumah pada pergi. Jadi yaa daripada BT di rumah, bagus aku main ke tempatmu” jelas Keisha panjang lebar.
“kok diam aja sih, aku nggak disuruh masuk ni? Masa iya aku berdiri terus didepan kamarmu? Nggak kasian sama aku?” lanjutnya.
“kamu sih nggak perlu dikasihani. Haha”
“ihh kok gitu? Ah, Alva jahat deh” ucap Keisha dengan nada manja.
“iya deh iya, ayo masuk nona Keisha” ujarku semanis mungkin.
“nah gitu dong”
Tanpa diperintah, Keisha langsung menuju tempat tidurku dan langsung duduk disitu. Aku pun mengikutinya.
“va, apa kamu nggak bosan dengerin lagu Move On-nya Bruno Mars terus? Kayaknya tiap hari kamu muter lagu it uterus deh” komentar Keisha.
“nggak, aku suka sama lagunya” jawabku singkat.
“bukannya kalo denger lagu ini kamu jadi inget sama Aldo?”
“ahh udah deh, jangan bahas dia lagi. Aku males tau nggak?!”
Tiba-tiba Hp-ku berdering. New message, dari Aldo. Aku pun membiarkannya, dan tidak membalasnya. Tidak lama kemudian, Hp-ku berdering lagi. Aldo menelfonku. Tak ku hiraukan. Hingga beberapa kali Hp-ku berdering, tak juga ku hiraukan. Sampai akhirnya Hp-ku tak berdering lagi.

“va, kok nggak diangkat? Mungkin dia mau ngomong sesuatu” saran Keisha.
“males, Kei”
“kenapa kamu menghindar darinya? Mau sampai kapan begitu?”
“aku nggak menghindar kok, sok tau kamu.”
“terus?”
“yaa, aku nggak mau aja ngingat dia, karna . . .” ucapku menggantung.
“karna apa, Va?” ujar Keisha penasaran.
“karna setiap aku ingat tentang dia, yang ada tu Cuma sakit Kei, sakit!”
“denger ya Alva, nggak Cuma kamu doing yang ngalamin itu tau nggak. Saran aku sih kamu harus coba ngelupain dia, cari pengantinya”
“ngomong sih enak, tapi itu nggak mudah Kei”
“iya aku tau, aku ngerti. Tapi apa salahnya mencoba?”
“ahh udah deh, ganti topic aja. Jangan paksa aku untuk ngomongin ini lagi”
“iya deh iya, maaf”.

Tahun kembali berlalu. Sekarang aku sudah duduk di kelas XII IPA-1. Itu artinya tidak lama lagi aku akan menempuh Ujian.
Pada suatu hari sepulang sekolah . . .
“vaaa tunggu”
aku menoleh kebelakang. Kulihat Aldo dengan langkah setengah berlari menghampiriku.
“apa?” jawabk ketus.
“aku mau ngomong sesuatu, boleh kan?”
“sorry, tapi aku buru-buru”
“please, bentar aja kok” ucapnya dengan nada memohon.
“oke, ngomong aja”
“setelah lama kita tidak berkomunikasi lagi, aku merasa ada yang berbeda. Aku merindukanmu”
Aduh, manis banget. Dia nggak tau apa? Selama ini aku galau juga karna dia, dan sekarang dia ngomong begitu dengan seenak jidat sendiri. Argghhhh!!
“terus?”
“ya terus aku mau hubungan kita membaik kayak dulu lagi. Meskipun aku udah punya pacar, aku mau kita sahabatan kayak dulu lagi, please”
Huftt, aku pun menghela nafas panjang. Aku berfikir sejenak. Mungkin benar, aku harus memperbaiki hubungan ini. Hubungan yang sama, dengan orang yang sama, tapi dengan rasa yang berbeda. Aku baru sadar ternyata aku telah bisa melupakan perasaan special yang dulu ada untuknya. Mungkin perasaan itu menghilang seiring berjalannya waktu.
Lagi-lagi aku menghela nafas dan kemudian tersenyum.
“ya baiklah, mungkin kita bisa kembali seperti dulu” ucapku ringan.
“makasih, Va. Kamu emang baik” ujarnya sambil tersenyum.
“iya sama-sama”

“Keishaaaaaaa…” sapaku dengan wajah berseri-seri
“weeh, tumben ceria amat? Kesambet setan apa? Hahaha” ujar Keisha cekikikan.
“ih bukannya seneng temannya ceria, ini malah diledekin” ujarku kesal.
“hehe, iya deh. Emang kenapa kamu ceria?”
“lohh, emang selama ini aku nggak ceria gitu?”
“nggak, semenjak kamu tau Aldo punya pacar. Haha”
“ohh hahaha”
Kamipun tertawa bareng.
“emm Kei, sekarang aku udah siap untuk Move On”
“waw, demi apa kamu ngomong gitu? Haha”
“demi waktu yang terus berjalan”
“cielah, sejak kapan kamu bisa ngomong gitu?”
“ya sejak tadilah, aku ngomong nya juga tadi”
“jangan-jangan kamu punya gebetan baru ya?”
“ihh nggak tuh, sotoy kamu”
“terus karna apa?”
“pokoknya ya aku udah siap move on” kataku sambil menyunggingkan senyuman termanisku.
Lagi-lagi aku kembali tersenyum. Aku tersenyum sambil menatap birunya langit kala itu. Langit seolah ikut bersuka cita melihat aku tersenyum, melihat aku bangkit dari keterpurukan yang selama ini membelenggu.

TAMAT

Cerpen Karangan: Farchanny A. Ayu Pradhita
Facebook: Farchanny A. Ayu Pradhita