Cerpen: Mencintai Kamu Sampai Nafas Terakhir

Cerpen Mencintai Kamu Sampai Nafas TerakhirMemiliki perasaan cinta  dan sayang kepada seseorang tentu kita akan selalu menjaga agar hubungan itu bertahan samapi nafas memisahkan seperti yang dirasakan Muliani dalam cerpen yang kami berikan pada artikel cerpen pada kesempatan ini. Penasaran dengan cerpennya? Silahkan membaca!

Dua minggu aku merasakan hari hari tanpamu seakan aku kehilangan mu. Yah… Aku yang selalu merasakan itu dan mungkin kamu tidak.

Dua hari sebelum masuk sekolah aku merasakan yang aneh seakan ada yang hilang dari ku, aku gak tau apa? Waktu pun terus berjalan dan siang pun berganti malam. Tapi, aku masih juga merasakan hal yang sama. Waktu menunjukkan pukul 22.30 biasanya aku sudah tertidur lelap, tapi tidak untuk sekarang ini! Aku merasakan hal yang beda, seakan air mata akan jatuh membasahi pipiku. Karena hal itu aku mengambil laptop ku dan melanjutkan tulisan novel ku, tapi tetap saja rasanya air mata ini ingin jatuh dan membasahi pipiku. Ku ambil pulpen dan buku tanpa ku sadari aku menulis surat yang aku gak tau ingin ku berikan pada siapa, selesailah surat yang ku tulis. Air mataku tetap menetes dan terus mengalir dengan derasnya hingga aku selesai menulis surat itu.

Waktu pun berjalan dan hari pun terus berganti tepat hari pertama aku sekolah. Senin, 06 januari 2014 dengan sangat gembira rasanya bisa kembali bersekolah dan beraktivitas seperti biasa. Setiba aku di sekolah aku langsung menuju kelas ku di lantai 3. Sambil menaiki satu per satu anak tangga tak lupa pula terus ku tebarkan senyum pada setiap orang yang melihatku.

Tiba di depan kelasku ternyata aku orang pertama yang datang. Ku ambil iphone ku dari tas lalu ku pasang mp3 kesukaanku. Sambil mendengarkan mp3 kesukaanku itu datang satu persatu teman ku dan muncullah secara bersamaan keempat sahabatku silvi, maudy, mantha dan rizky sebenarnya kami berenam aku, silvi, maudy, mantha, rizky, sity. Tapi si sity masih liburan di malaysia. Tapi ada 1 orang lagi yang belum datang yaitu kamu deny muliawan. Aku selalu menunggumu, tapi kau gak datang juga.

Si silvi sibuk nanya nanya masalah liburan “eh eh kelian liburan kemana?”
“gak kemana mana huhu” jawab maudy
“mul mul? Eh mul?” sambil mencabut headset yang ada di kuping ku “apa si sil?” tanyaku kesal
“kau kenapa? Kok diam aja trus kayak lagi nunggu seseorang gitu?” tanya dia panjang lebar padaku
“gak papa” jawabku singkat
“mana mungkin”
Aku hanya diam dengar perkataan dia itu.

Kriiing…. Kriiing… Kriiing…
“wee, udah bel” tanyaku panik
“udah lah gak kau liat jam brapa tuh? Makanya jangan dengerin musik aja neng” jawab silvi sambil menunjuk jam
“hoho iya” jawabku dengan nada gak enak dan masih sibuk mencari sosok deny
“ke bawah yuk” ajak maudy
“ngapain?” tanyaku singkat
“ni anak macem gak pernah sekolah ya? Ya upacara lah! Ini kan hari senin” kata silvi
“lupa aku loh, namanya dah lama gak sekolah haha”
Sambil menuju ke loby untuk upacara.

Upacara pun selesai kami bergegas menuju ke kelas “we, hari ini banyak yang masuk gak ya?” tanyaku
“semoga aja banyak, kenapa mul?” tanya silvi
“gak papa, hehe” dengan nada yang canggung.

Sesampai di kelas silvi bertanya padaku “kau kenapa mul?” tanya silvi
“ha? Gak papa sil” jawabku agak bingung
“kau lagi nunggu siapa? Deny? Mungkin dia gak datang! Udalah mul ngapain ngarepin orang yang gak pernah ngertiin kau!” nasehat silvi panjang lebar sama ku
“apa? Dia? Gak lah yaw” bantah ku padahal aku memang lagi nunggu dia huhu
“mul kenapa?” tanya amantha menghampiriku salah satu sahabatku juga
“gak papa bun” jawabku singkat
“entah ni si mul entah kenapa dari tadi” sahut maudy kesal
“aku gak papa loh we!” jawabku tegas.

Tiba tiba guru bp kami datang ke kelas kami “assalamu’alaikum”
“wa’alaikumsalam”
“guru kalian gak datang hari ini dikarenakan sakit, maka dari itu ibu akan menggantikan bapak itu” jelas bu rini selaku guru bp kami
“oh iya ya buk” jawab salah satu temanku
“eh kalian udah tau kalau si deny mau pindah” kata buk rini.
Jelas saja aku kaget dan pengen nangis rasanya tapi aku menutupi kesedihanku dengan cara diam
“apa buk? Kok bisa?” tanya manta
“mana ibu tau, mungkin gara gara rahma ni phpin dia, hehe” kata buk rini
“apa bu kok saya pula!” bantah ku kesal.

Setelah itu suasana kelas hening, amanta menyampiri ku “mul?”
“apa bun” “gak papa, kau gak sedih?”
“gak ah liat ni gak kan” sambil menunjuk kan mataku, padahal uda pengen nangis aja disitu.

Semenjak kepergian deny aku pun sering murung dan banyak diam. Iya… Rasanya itu sulit melupakan masa masa bersama, apalagi kau adalah cowok pertama yang aku gak pernah berani menatap matamu. Kau selalu hadir di setiap lembar ceritaku, kau juga hadir di setiap bayang bayangku banyak kesamaan antara kita berdua mulai dari nama rahma muliani dan deny muliawan “muliani dan muliawan” masa masa saat kita study tour semua gak akan terlupakan tapi satu pesanku aku selalu menyayangimu walaupun kamu tidak seutuhnya menjadi milik ku aku selalu ada untukmu love you till the end laff you.

Cerpen Karangan: Rahma Muliani
Facebook: Rahma Muliani Nasution
Ini cerpen yang pertama kalinya aku tulis disini, maaf ya kalau banyak kata kata yang salah hehe:) karna kan masik proses belajar.