Cerpen Remaja “Pertama dan Terakhir”

Cerpen Remaja Pertama dan TerakhirCerpen atau cerita pendek memang tiada habisnya apalagi Anda yang suka denga cerpen apalagi cerepennya berkisah masalah remaja dan cinta. Berikut rumahremaja.com bagikan buat kalian yang suka dengan cerita pendek atau cerpen. Cerpen yang dikarang oleh Clara Robert Pangestu. Jika ingin Berteman dengan pengarangnya di Facebook, kalian bisa berteman add aja namanya Clara Robert. Oh ia kembali dengan cerpennya, Cerpen ini berjudul “Pertama dan Terakhir” yang mencertakan kisah cewek paling cuek dan cowok paling keren disekolah. Penasaran dengan cerpennya? Langsung saja ya bacanya…!!!

Dea sedang duduk santai di depan kelasnya bareng teman teman gengnya yang lagi pada ngerumpi.
“Lihat deh ke lapangan si Redo cakep banget ya”.
“Apalagi kalau lagi main Basket gitu. Meleleh gue ngelihatnya”.
Tanpa menghiraukan teman-temannya Dea terus saja fokus dengan kameranya. Itulah Dea Iskandar cewek cuek yang agak autis kalau sudah berhubungan dengan fotografi.

Tiba-tiba saja sebuah Bola basket melayang menuju ke depan kelas Dea. Semua para gadis disana berharap Redolah yang akan mengambil bola itu dan ternyata benar Redolah yang akan mengambil bola itu.
“Ada yang ngelihat bola gue ngak?”
“Nih bolanya”.
“Thanks ya”.
“Dea mumpung loe lagi megang kamera fotoin kita bareng Redo dong. Buat kenang-kenangan”.
Tanpa menghiraukan permintaan Mela, ehhh si Dea malah berjalan masuk ke dalam kelas.
“DEAAAA”.

“TUh cewek anak baru?”
“Nggak kok”.
“Kok gue baru ngelihat dia ya!!”
“Masa sih. Dea sih emang jarang keluar kelas, tapi kan dia sering juara fotografi di sekolah”.
“mungkin gue yang kuper”.
“Ngak mungkin lah loe Kuper”.
“Yuk fotonya pake Hp gue aja”.
Setelah melakukan sesi berfoto Teman-temannya Dea pun langsung masuk ke dalam kelas.

“De loe kenapa sih ngak mau fotoin kita bareng Redo?”
“Lagi Males aja. Objeknya kurang menarik”.
“Maksud loe yang kurang menarik kita atau Redo?”
“Kayaknya kalian semua deh!!”
“Jahat loe”.
“Biarin”.

2 Hari kemudian.
Semua teman-temannya sedang berada di lapangan basket untuk mendukung tim basket sekolah yang sedang bertanding menghadapi SMA angkasa. Dea sedang berjalan menuju perpustakaan untuk tidur sejenak sambil menunggu teman-temannya selesai menjadi pemandu sorak dadakan.

Tiba-tiba saja ada orang seorang cowok berpakaian seragam Basket SMA angkasa yang memanggil Dea.
“Dea”.
“Bimo. Mau ngapain ke sekolah gue?”
“Kalau gue lagi make baju basket gini gue mau ngapain lagi coba”.
“Mungkin saja loe mau ngepel seluruh sekolah gue”.
“Sialan loe. Sepupu loe yang cakep ini lagi mau tanding basket lah”.
“Kalau mau tanding basket ngapain kesini? Ke lapangan aja lagi?”
“Iya nih lagi mau OTW lapangan. Oh ya loe bawa kamera?”
“Bawa”.
“Tolong fotoin gue selama pertandingan ya!!!”
“Iya deh!!!”

Pertandingan pun berlangsung Dea cukup menggambil gambar dari depan kelasnya. Dia tidak mau terganggu oleh sorakkan para gadis-gadis di sekolahnya yang terus-menerus meneriakkan nama Redo dan gadis-gadis SMA angkasa yang terus meneriakkan nama Bimo.
“Tuh cewek cewek lebay banget deh!!”

Pertandingan pun berakhir, Dea dan teman-temannya sedang berjalan menuju ke gerbang sekolah.
“De tadi gue lihat loe ngambil gambar selama pertandingan ya?”
“Iya”.
“Tumben banget? Ada apaan nih?”
“kepo deh loe semua!!”
Tiba-tiba saja Redo lewat dengan Mobilnya.
“REDOOOOO”.
“Iya, mau pulang ya?”
“Iya”.
“Bareng gue aja!!”
“Nggak ah rumah kita kan ngak searah sama rumah loe. Ntar ngerepotin lagi”.
“Tapi kan Dea searah sama Redo”.
“Kalau gitu yuk bareng gue!!!”
“Ngak usah gue bareng Bimo”.
“Bimo anak basket SMA angkasa ya!!”
“Iya”.
“Kalau gitu gue duluan ya. Bye girls”
Redo pun berlalu meninggalkan Dea dan teman-temannya.

“Si Bimo itu siapa loe?”
“Bimo itu kan sepupu gue”.
“Kok loe ngak pernah cerita ke kita sih”.
“Harus gitu gue kenalin satu-persatu keluarga besar gue ke kalian semua”.
“Ngak juga sih”.

Keesokkan Harinya.
Dea sedang duduk sendirian di kelas, sedangkan teman temannya sedang mengisi amunisi perut mereka di kantin. Tiba-tiba saja Redo datang menghampiri Dea.
“HAi…”
“Kalau loe mau nyari para fans loe alias temen temen gue, loe datang di waktu yang kurang tepat. Mereka lagi pada di kantin”.
“Gue nggak nyari temen temen loe. Gue nyari loe”.
“Dalam rangka apa seorang Redo nyari gue ke kelas?”
“loe tau nama gue!!”
“Please deh aah, setiap hari temen temen gue ngak pernah absen ngomongin loe”.
“Emang susah yah jadi idola di sekolah!!”
“Kalau tujuan loe kesini Cuma untuk ngebanggain diri loe, mendingan sekarang loe pergi!!”
“Kalau gue ngak mau pergi?”
“Biar gue yang pergi”.
Dea pun hendak pergi meninggalkan Redo. Tapi Redo menahan dirinya.
“Tunggu, jadi gini. gue denger-denger loe adalah fotografer, jadi gue pingin loe ngambil gambar gue dan anak anak basket”.
“Kalau gue ngak mau?”
“Loe harus mau, dalam hidup gue nggak pernah nerima kata tidak”.
“Kalau gitu, gue orang pertama yang bakalan bilang ngak sama loe”.
Dea mengatakan itu lalu pergi begitu saja meninggalkan Redo.

3 HAri kemudian.
Sekolah Dea mengadakan kunjungan wisata ke puncak bogor bagi anak-anak kelas 3. Dea kebetulan banget dapet satu bus denagn Redo. Masih 1 jam lagi untuk sampai di tempat tujuan semua teman-temannya Dea memanfaatkannya untuk terlelap sejenak, tapi tidak dengan Dea dia masih asik dengan mengambil foto di sepanjang perjalanan.

Tiba-tiba saja Redo kembali datang dan duduk di kursi sebelah Dea.
“Loe mau apa?”
“Semuanya udah pada tepar yang masih hidupkan Cuma loe dan gue. Dari pada mati kebosanan mendingan gue gangguin loe”.
“terserah loe”.
“Dari pada loe foto-foto pemandangan mendingan kita foto yuk”.
Redo pun mengambil kamera Hpnya dan mulai bernarsis ria, walaupun terpaksa Dea tetap foto bareng Redo. Setelah lelah bernarsis ria akhirnya Redo pun juga ikutan tepar menyusul teman teman yang telah mendahuluinya. Sekarang Cuma tinggal Dea yang masih terjaga.
“NIh orang cakep juga kalau lagi tidur!!!”
Dea pun mulai menggambil gambar Redo yang sedang tidur.
“Apa kabarnya ya kalau gue pampang foto ini dimading. WKWKWKWKWk”.

Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan wisata.
“Bangun Woiii. Udah nyampe nih”.
“Iya… iya nih gue bangun”.
Mereka pun segera keluar dari bus.
“Ciee… cie tadi ada yang duduk berduaan tuh…”
“Tau nih Dea pakai malu-malu segalaaa”.
“Kalian ini kenapa?”
“Cieeee”.

Dea dan Teman temannya sedang di dalam perjalan menuju jakarta, suasana di dalam bus begitu heboh, dimulai dari Redo yang ingin menyanyikkan sebuah lagu.
“Waktu itu adalah pertama kalinya dalam hidup gue ada orang yang bilang tidak sama gue, dan gue pastiin itu juga akan menjadi yang terakhir”.
Redo pun mulai bernyanyi, dan pastinya lagu itu dipersembahkan untuk Dea seorang hahai. Di akhir lagunya Redo pun berjalan mendekati tempat duduk Dea.
“Loe fikir loe keren?”
“Pastinya”.
“Nggak…”
“Jangan bohong deh, semua disini tau gue itu keren!!!”
“terserah…”
“De gue Cuma pingin loe terima gue, mungkin untuk jadi temen dulu aja deh, gue terima kok”.
“Gimana ya? Boleh deh”.
“Ya, Hahai”.
“Tapi tunggu gue punya foto loe yang paling keren”.
Dea pun memperlihatkan foto Redo yang sedang terlelap tidur tadi siang.
“DEEAAAAA”.
“HAHAHAHA”.

Cerpen Karangan: Clara Robert Pangestu
Facebook: Clara Robert