Kembalinya Kehidupan Kecilku

Kembalinya Kehidupan KecilkuRUMAHREMAJA.COM – Hari itu, aku sangat sedih dan juga marah. Bunda dan ayahku bertengkar untuk yang kesekian kalinya, siapa yang akan tahan melihat kedua orangtuanya bertengkar, bertengkar dan bertengkar, tidak ada bukan. Kamarku berada di atas sedangkan kamar mereka ada di bawah, tapi suara mereka terdengar ke kamarku, suara bentakan, suara tangisan bunda pun terdengar. Aku tidak tahan mendengarnya, aku juga tidak ingin tahu apa yang terjadi pada mereka. Yang pasti aku ingin pergi menjauh dan tidak mendengar suara-suara itu lagi. Aku merindukan masa kecilku yang begitu menyenangkan, waktu bunda dan ayah tidak pernah bertengkar dan juga merindukan sahabat kecilku, adit. Aku ingin masa-masa itu kembali lagi. Aku memakai jacket, mengambil kunci motor, lalu pergi dengan motor itu.

Motorku melaju dengan cepat, suara ayah dan bundaku masih saja terdengar di telingaku. Aku menambah kecepatan motorku. Aku melewati tikungan, jalannya lirin. Sehingga aku tergelincir. Motorku, masih di atas namun badanku jatuh ke bawah, seperti jurang. Tidak begitu dalam namun sulit untukku naik ke atas karena jurang itu berbentuk sudut 90°. Aku sungguh takut, aku menangis. Sangat gelap, gelap sekali. Aku berteriak minta tolong “tolong, tolong, ayah bunda bantu aku. Siapa saja tolong aku!” Aku terus berteriak minta tolong. Aku mendengar suara mobil, namun suara itu berhenti. Mungkin melihat motor yang tergeletak di sisi dekat jurang atau mendengar suaraku. Aku terus meminta tolong, walaupun suaraku sudah habis. Cahaya senter mengenai mataku, ada orang yang berada di atas yang mungkin akan menolongku.
“Seorang gadis yah,” ujar seseorang
“Oh ya? Tolong berikan tali. kita akan menolongnya. Sepertinya dia ketakutan.”
“Iya yah, sebentar”
Percakapan orang-orang yang akan membantuku
“Hey nak, kau jangan takut. Kami akan membantumu.”
“Iyaaa” ujarku dengan menangis
“Jangan menangis, tenang saja. Tidak akan terjadi apapun.”

Terlihar sorotan lampu, lalu tambang diturunkan dari atas. Aku berdiri, berdiripun kaki kananku sakit, apalagi naik ke atas menggunakan tambang.
“Ayolah nak, kau bisa. Ini hanya sekitar 2,5 meter.”
“Tapi, kakiku sakit. Tapi sudah aku akan mencobanya.” Ucapku
Aku mencoba naik, namun baru beberapa kaki aku kembali jatuh karena licin, kaki ku pun sangat sakit.
“Oh tuhan, gadis ini. Ya sudah aku saja yang turun” ujar laki-laki yang seumuranku.
Laki-laki itu turun menggunakan tambang. Sampailah di bawah.
“Maafkan aku merepotkan kalian.” Ucapku
“Sudah jangan banyak bicara, cepat naik. Kamu yang duluan, nanti saya di belakangmu”
“Mmm iya.”
Aku pun berdiri, mencoba untuk naik. Aku tidak begitu khawatir sekarang, ada seseorang di dekatku. Sampailah aku di atas, tangan seorang laki-laki seumuran ayahku menggapaiku lalu menariku sampai ke atas. Laki-laki di belakngku pun sampai di atas.
“Terimakasih banyak.” Ucapku
“Sama-sama nak. Ayo kita ke rumah om saja, sepertinya kaki kamu keseleo, ada mba yang bisa pijit di rumah kami” Ujar laki-laki yang mirip ayahku
“Terimakasih om”
Aku mencoba berjalan, tapi om om itu.
“Sini, kaki kamu pasti sakit.” Dia memopongku jalan ke mobilnya.

Sampailah kami di rumah mereka, aku berdiri. Tidak sengaja karena sakit aku repleks berbicara “aww” om om itu lalu menghampiriku untuk menuntunku kembali. Aku berjalan pelan, tetesan air hujan turun. Laki-laki yang seumuranku menghampiri kami.
“Ya ampun gadis ini, lama sekali. Biar aku menggendongnya, hujan akan turun.”
“Ya sudah, hati-hati nak.”
Dia pun menggendongku sampai ke rumahnya, dia dudukan aku di sofa.
“Oh iya nak. Siapa nama kamu?” Ujar laki-laki seumuran ayahku
“Nama saya sarah om. Maaf nama om siapa?”
“Saya dharmawan, panggil saja om darma. Anak saya itu namanya Reyhan.”
“Oh, iya om.”
“Kamu duduk di kelas berapa? Di mana sekolah kamu?”
“Saya masih kelas 2 sma om. Di sma 17 ******”
“Oh, reyhan anak saya duduk di kelas 3 sma. Sekolah yang sama dengan nak sarah.”
“Oh gitu, iya om.”
“Oh iya, saya minta maaf atas sifat reyhan yang seperti itu sama nak sarah. Dia memang seperti itu tapi aslinya dia sangat baik.”
“Tidak apa-apa om, saya juga bisa memakluminya.” Ucapku tersenyum kepadanya
“Saya seperti pernah melihat nak sarah sebelumnya, dan saya juga punya teman dan anaknya seusia kamu kalau tidak salah namanya juga sarah.”
“Oh, begitu ya om. Mungkin hanya mirip om.”
“Tapi rasanya kamu sarah yang om kenal, apa kamu anaknya Farida dan yahya?”
“Hah, iya om. Aku anak mereka.” Aku Tersenyum datar, karena tidak percaya.
“Berarti benar perasaan om, apa kamu ingat saya. Tetangga sekaligus rekan kerja ayah kamu waktu di bogor.”
“Mmmm, oh iya saya ingat. Ya ya ya, tapi yang saya tau kalau anak om itu adit bukan?”
“Iya reyhan memang adit. Nama panjangnya Reyhan Aditya. Kalau nama di keluarganya adit bukan reyhan, kan kamu itu sahabat adit waktu di bogor, jadi kamu panggil dia adit, begitu.”
“Oh, gitu ya om. Sepertinya adit tetap sama seperti dulu, cuek cuek bebek sama orang.” Aku tertawa terbahak-bahak.
“Kamu juga sama kaya dulu sarah, ketawanya juga sama. Beda banget sama adit yang pendiem.” Om dharma pun tertawa terbahak-bahak.

Om dharma mengantarkanku pulang ke rumah, malam itu aku menginap di rumah om dharma. Pagi-pagi sekali aku meminta om dharma mengantarkanku, karena aku takut orangtuaku khawatir. Aku juga sudah menceritakan semuanya kepada om dharma, dia sangat menghawatirkan keluarga kami yang sudah retak. Bunda dan ayahku langsung memelukku ketika aku sampai di rumah, mereka sudah tidak bertengkar lagi. Mereka juga berjanji tidak akan bertengkar seperti sebelum-sebelumnya. Itu semua karena aku dan karena keluarga kecil kami.

Aku sedang bermain basket di belakang rumahku. Waktu kecil, aku juga punya lapang basket tapi lebih kecil dari yang sekarang, biasanya aku bermain dengan sahabatku itu, adit. Aku beristirahat di kursi yang ayah sediakan untuk beristirahat. Basket memang melelahkan tapi sangat menyenangkan. Aku memejamkan mataku sejenak di kursi itu. Terdengar suara langkah kaki, yang asing menurutku. Bukan langkah kaki ayah ataupun bunda. Langkah kaki itu secara tidak langsung menyuruhku untuk membuka mata. Aku membukanya perlahan. Seorang laki-laki tengah berada tepat di depanku memakai baju tim basket berwarna biru. Laki-laki itu adalah adit, sahabat kecilku. Aku kaget, aku hanya menatapnya tidak berkata sedikitpun. Dia tersenyum, seperti senyumnya yang dulu selalu ia berikan. Aku tersenyum melihatnya, senyum yang mungkin menurut adit senyum yang sama seperti senyumku waktu kecil. Aku berdiri, tak perlu waktu lama aku langsung memeluknya.

Aku merindukannya, waktu aku pindah ke bandung aku sempat demam tinggi. Dokter menyatakan kalau aku merindukan seseorang dan dia adalah adit, adit adalah laki-laki yang membuatku merindukannya begitu dalam. Adit membalas pelukanku, tak peduli dengan keringat yang basah mengalir di tubuh mungilku, aku sungguh nyaman berada di pelukannya. Adit melepaskan perlahan pelukannya, dia menatapku sangat dalam.

“Kau masih sama, sar.” Tersenyum dan mencolek daguku.
“Yap aku masih sama, sarah yang dulu. Yang demam tinggi karena terlalu merindukanmu.”
“Benarkah itu?” Dia mulai menampakkan giginya yang rapi.
Aku mengangguk. Aku menceritakan tentang demam itu, bukan hanya itu tapi aku juga menceritakan tentang kehidupanku setelah aku tinggal di bandung. Begitu juga adit, dia menceritakan semuanya. Ternyata waktu itu, adit juga demam tinggi karena hal yang sama, Yaitu karena merindukanku. Kami tenggelam dalam cerita yang begitu menyenangkan. Kebahagianku dulu, ayah dan bunda sudah tidak bertengkar lagi dan sahabat kecilku kembali untuk mendengarkan cerita-ceritaku.

Cerpen Karangan: Renita Melviany