Jatuh Cinta Pada Bodyguard

Jatuh Cinta Pada Bodyguard“Akhir-akhir ini banyak orang yang berusaha mengincar nyawamu. Untuk menjagamu, Ayah sudah menyiapkan seorang pengawal untukmu.”

Aku melenguh mendengarnya. “Lagi-lagi? Kali ini siapa lagi yang akan jadi Bodyguardku? Semoga bukan bapak-bapak bermuka garang yang selalu membawa pistol di jasnya lagi seperti sebelumnya.” Aku berkata sarkatis.

Ayah tertawa mendengar komentarku, ia melemparkan sebuah dokumen ke meja tepat di depanku. Kuambil dokumen itu dan kulihat judulnya, “Surat penyewaan Bodyguard?”

“Benar! Coba kau lihat fotonya.”

Aku membukanya dengan malas-malasan. Tapi bukannya bapak-bapak bermuka sangar yang kulihat, tapi seorang cowok bermuka imut berseragam SMA. “Hah? Kau pasti bercanda kan yah?”

“Tidak! Aku sudah menyesuaikan Bodyguardmu dengan selera anak muda, dan yang paling penting aku sudah menyuruhnya untuk tidak terlihat sebagai bodyguardmu melainkan pacarmu. Kau senang kan, Fitri?” ayah tertawa puas dengan penjelasannya.

Dan aku yakin, Ayah pasti sudah gila! “Aku tak mau! Seenaknya saja menyuruh cowok yang nggak kukenal buat jadi pacarku! Pokoknya aku menolak!”

“Boleh saja kau menolak, tapi Ayah tak mau tanggung kalau kamu sampai terancam.”

Ugh!

“Baiklah tapi dia cuma boleh antar jemput aku sekolah saja. Oke?”

“Fitri Aulia!” teriak adik kelasku sambil memasuki ruang klub balet yang aku ikuti. “Fitri Aulia!” katanya dengan nafas terengah.

“Ada apa, Ike? Kau tampak kelelahan.” Kataku dengan nada seanggun mungkin yang biasa kugunakan di sekolahku, SMU Tunas Harapan, sekolah khusus putri, untuk menunjukkan posisiku sebagai seorang putri keluarga kaya yang bermartabat tinggi.

“Ada yang mencari Fitri Aulia, seorang pria tampan dari SMU Meraih Mimpi.” Jawabnya terpesona.

Cowok dari Meraih Mimpi? Siapa sih?

“Biar aku yang ke sana sendiri, kau istirahatlah dengan tenang di sini selama aku pergi ya Ike.” Aku berkata sambil masuk ke ruang ganti pakaian. Seingatku aku tak pernah punya kenalan dari Meraih Mimpi.

Aku menepuk-nepuk seraganku sebentar mengusir debu yang nggak pernah ada di sana, lalu kutegakkan punggungku dan berjalan anggun layaknya seorang putri menuju ke gerbang, melihat siapa orang yang menungguku di sana. Doakan saja bukan orang yang mengincarku.

Tapi Cuma ada seorang yang berdiri di sana.

Dan dia tak terlihat seperti orang jahat yang mengincarku.

Dan jujur saja, sebenarnya dia termasuk cowok yang sangat tipeku, tapi rasanya aku tak pernah lihat dia.

Cowok itu melihatku, “Aris?”

Aku tersenyum dan mengangguk, “Benar. Apa anda yang mencari saya?” tanyaku dengan suara semanis mungkin.

“Iya, ada yang ingin aku bicarakan. Ini ada hubungannya dengan pekerjaan yang diberikan ayahmu, Tuan Hamsyafir.”

Pekerjaan yang diberikan ayah?

Oh iya! Ayah kan sudah mengatakan kalau Bodyguardku akan datang hari ini. Jangan-jangan dia orangnya!

Tapi kok mukanya agak beda dengan yang di foto sih? Yah tapi mungkin saja soalnya foto kan bisa menipu.

Cowok itu berkata lagi, “Bisa bicara di tempat yang lebih tenang?”

Aku mengangguk, kami berjalan ke taman di dekat sekolah yang cukup sepi. “Apa yang ingin anda bicarakan?” tanyaku.

Tapi tiba-tiba cowok itu mencengkram tanganku sangat erat. “Sakit!” rintihku.

“Sakit yang kau rasakan sekarang belum ada pa-apanya dengan sakit yang dirasakan oleh perusahaan keluargaku! Gara-gara ayahmu itu keluarga kami bangkrut dan terpaksa menjual perusahaan pada ayahmu itu! Bukan Cuma itu, kami juga harus bekerja jadi kuli di keluargamu!! Sekarang si tua bangka itu akan merasakan sakit juga karena kehilangan putri tunggalnya!”

Aku salah orang! Dia bukan Bodyguardku, tapi orang yang mengincarku!

Bodohnya aku.

 Tapi bukan itu yang terpenting. Cowok ini sudah gila! Ia berniat membunuhku!

Belum sempat aku berteriak, seseorang darang dan menodongkan pistol di kepala cowok sinting itu. Selamat deh aku.

“Apa yang kau lakukan padanya, dia itu pacarku.” Orang yang baru datang itu berkata.

Tunggu dulu! Pacar katanya!

Apa aku salah dengar ya?

Aku melongok melihat siapa si penyelamat jiwaku, sekaligus orang yang mengaku-ngaku pacarku itu. Cowok berseragam SMA Pembaharuan, (sekolah khusus cowok yang masih satu yayasan dengan sekolahku) mukanya imut dan tampak tak asing .

“Berisik kau! Urusanku ada sama cewek ini bukan padamu!” cowok sinting itu berkata.

Jujur saja, dia pemberani juga. Jarang ada orang yang masih bisa membantah kalau di kepalanya menempel pistol.

Namun cowok imut yang membawa pistol itu tak berkata apa-apa lagi, ia mencengkram pundak si cowok sinting dan membanting cowok itu ke tanah dengan gaya pejudo profesional.

KUAT BANGET!

Cowok sinting itu bangkit dan berusaha memukul cowok imut itu, dan cowok itu langsung mengelak dan balas menonjok perut cowok sinting itu. Cowok itu terkapar lalu berdiri dan lari.

Aku merasa lega, sekaligus takut juga, sebenarnya siapa cowok imut dari Pembaharuan yang bawa-bawa pistol ini ya?

“Bahaya bagi anda Nona, jika anda mudah dipancing orang lain. Saya tak tahu harus bicara apa pada ayah anda jika sampai Nona terluka.” Cowok itu berkata sambil memasukkan pistolnya ke dalam gakuran seragamnya.

Ini baru bodyguardku! Pantas dia mengaku sebagai pacarku. Syukurlah. Aku tak mau berurusan sama orang yang mengincarku dan membawa pistol di dalam gakurannya sih. “Terimakasih, sudah menolongku.”

“Itu tugasku.”

NYEBELIN!! Kok dingin begitu sih, mana tak bereaksi dengan keanggunanku lagi!

“Mulai saat ini aku mohon kerja samanya, ya?” aku masih belum menyerah. Sambil mengerahkan semua keanggunanku aku berkata.

Dia menatapku. Berhasil! Dia terpesona!

“Apa kau biasa bersikap penuh kepura-puraan begitu?”

Aku terbelalak.

DIA BENAR-BENAR ORANG YANG MENYEBALKAN!!!!!

Pagi diantar bodyguard nyebelin itu. Siangnya langsung dijemput setelah selesai ikut klub balet. Karena pura-pura pacaran harus pura-pura mesra. Berita itu langsung menyebar di sekolah. Mereka benar-benar percaya kalau aku pacar cowok es itu. Pokoknya menyebalkan!

“Fitri enak ya, pacarmu benar-benar tampan.” Monica, teman sekelasku berkata.

Aku tertawa manis menjawabnya. Padahal dalam hati aku sudah mengomel panjang lebar. Siapa yang sudi pacaran sama cowok sial yang bahkan namanya aja aku nggak tahu itu! “Walaupun seperti itu, sebenarnya kami tak terlalu dekat juga kok.”

“Eh, masa sih? Habis kelihatannya dia benar-benar memperhatikanmu deh.”

Masa sih?

Gara-gara percakapan dengan Monica tadi di sekolah, sekarang aku jadi kepikiran. Mana mungkin dia memperhatikanku kan? Kalau iya pun itu karena aku adalah majikannya.

Walau sebal tapi aku cukup bersyukur atas kehadirannya. Selain aku jadi aman, aku juga jadi bersikap jujur padanya. Tak perlu menjadi seorang putri di hadapannya. Aku bisa jadi diri sendiri.

Si  bodyguard itu seperti biasa sudah ada di depan gerbang begitu aku selesai ikut klub.

“Halo Fitri!” dia mengucapkan dialognya sebagai ‘pacarku’. Aku langsung menghampirinya sambil tersenyum dan berkata, “Maaf membuatmu lama menunggu, ayo kita pulang.”

Lalu dia menjagaku sampai rumah. Harusnya begitu. Tapi hari ini beda, saat aku sampai di gerbang terlihat sebuah perkelahian. Cowok Meraih Mimpi sinting waktu itu datang sambil menyabetkan pisau pendek pada bodyguardku. Orang-orang melihat dari jarak aman, tampak takut.

“TUNGGU!” teriakku sambil berlari ke arah mereka berdua.

“MINGGIR! JANGAN MENDEKAT!” bodyguardku berteriak, namun aku terlambat menyadari.

Sasaran sebenarnya cowok sinting itu aku!

Dia maju sambil mencoba menusukkan pisau pendek itu ke perutku. Aku berteriak.

Namun tak terasa apapun.

Bodygurdku menyelamatkanku. Tapi perutnya yang tertusuk jadi bersimbah darah.

Beberapa guru datang dan mengamankan si sinting, sementara beberapa yang lain memanggil polisi untuk menyelamatkan bodyguardku.

Rasa takut menyergapku…

“TIDAAAAAAAAAAAAKKKKKK!!!!!!!!”

Bau obat yang tajam.

Aku dimana?

“Fitri? Kau sudah sadar?” wajah ayah memenuhi area pandanganku. “Syukurlah, kau hanya syok saja. Aku sempat khawatir tadi.

Aku ingat semua kejadiannya, termasuk bodyguard yang tertusuk. “Ayah di mana dia?” teriakku, mengingat aku tak tahu nama bodyguardku.

“Bodyguardmu? Dia di ruang sebelah. Oh iya, sebenarnya dia itu…”

Aku langsung berlari ke kamar samping. Kulihat dia setengah berbaring di ranjangnya. “Kau tak apa-apa?”

“Kalau bilang aku baik-baik saja berarti aku bohong.” Jawabnya dingin

Berarti dia baik-baik saja.

“Ngomong-ngomong…” dia mulai bicara lagi, “Kenapa tadi kau langsung menerjang begitu saja?! Pikirkan dirimu sendiri dong!” ia terdengar marah.

Aku menangis, “Habisnya, aku hanya memikirkanmu saat itu. Aku benar-benar tak mau kau terluka. Aku kan suka padamu.” Kataku setelah menyadari perasaanku sendiri.

Ia menatapku, lalu memelukku. “Dasar bodoh, aku jauga tahu.”

“Lho? Jadi Fitri juga sudah tahu ya?” ayah muncul di ambang pintu. “Jangan-jangan kamu sudah tahu rencana mentunangkan kalian dengan menjadikan dia sebagai bodiguardmu?”

Aaaaaaaaaaaaaa

Apa?!

“Lho jadi kamu belum tahu ya?” bodyguardku eh bukan tunanganku berkata.

Ayah tertawa “Tapi ini sesuai rencana. Tak ada masalah sama sekali kan? Untunglah-untunglah.” Katanya sambil meninggalkan kami berdua.

Apa-apaan ini?!

“Kenapa kau tak bilang sih?! Curang!” teriakku jengkel.

Namun dia Cuma tertawa, “Yah tak apa-apa kan? Lagipula mulai sekarang kita bisa pacaran beneran tak perlu pura-pura pacaran lagi.”

Yah memang benar sih……….

“Baiklah!” jawabku, “tapi pertama-tama beritahu namamu dulu dong.”

“Jadi kamu belum tahu ya?” dia tampak capek. Dasar kau ini… “Namaku Rizal Arfandy.”

Aku tersenyum. “Rizal.” Panggilku

Dan mukanya memerah.

Aku tertawa, ternyata cowok super dingin dan nyebelin ini pipinya juga bis amerah ya?A