Cerpen Remaja: Kau Merubah Segalanya

Cerpen Remaja Kau Merubah Segalanya

Bim-Bim melaju dengan kecepatan penuh menembus hujan pagi itu. Dia tidak perduli dengan badannya yang telah basah kuyup di guyur hujan.

Sesampainya Bim-Bim di sekolah, halaman sekolah sudah sepi. Ini menandakan kalau jam pelajaran telah dimulai.

Bim-Bim dengan santai melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Saat akan memasuki kelas, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dan mengagetkannya. Dia adalah Viona, sahabat Bim-Bim.

“Woy Bim, telat mulu loe.. Sampai basah kayak gini lagi.” Kata Viona
“Iya bawel, tadi kehujanan. Maklum Saya kan naik motor, bukan kayak elu yang naik mobil. Tumben loe telat.” Jawab Bim-Bim
“Saya kesiangan bangun tadi. Udah yuks masuk.” Ajak Viona
“Yuukss..”

Mereka berdua memasuki ruang kelas. Seorang gadis menghampiri dan menyapa mereka berdua. Dia adalah Anggun, murid baru di kelas mereka.

“Hai..” Sapa Anggun
“Hai juga” Balas Bim-Bim dan Viona bingung.
“Nama kalian siapa? Saya Anggun, Saya anak baru di sini.” Kata Anggun memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.
“Bim-Bim.” Jawab Bim-Bim singkat dan pergi menuju bangkunya.
“Saya Viona. Oya, maaf ya atas sikap Bim-Bim, dia emang kayak gitu.” Kata Viona kemudian menyambut tangan Anggun
“Iya. Nggak masalah kok.”
“Saya ke sana dulu ya, nyusul Bim-Bim.”
“Ok.”

Suatu sore hari, Rahma berkunjung ke rumah Anggun untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Rahma adalah teman Anggun di sekolah. Ternyata rumah Anggun bersebelahan dengan rumah Bim-Bim. Anggun mempersilahkan Rahma masuk ke rumahnya dan mengambilkan minuman. Mereka mengerjakan tugas sambil berbincang-bincang ria.

“Saya nggak nyangka ternyata loe tetanggaan ama Bim-Bim, Nggun.” Kata Rahma sambil meminum es jeruknya.
“Saya juga rahma. Tapi kayaknya Bim-Bim nggak peduli gitu deh, Saya tetangga dia atau bukan. Padahal ortunya baik banget. Bim-Bim kenapa sih Rahma, kok cuek en’ dingin gitu sikapnya? Kemaren Saya tanya sama Viona, tapi Viona nggak mau bilang.” Terang Anggun

“Hmm.. Bim-Bim sebenarnya anak yang ceria en’ bersemangat. Saya tahu kok kenapa sikap Bim-Bim begitu. Semua orang juga tahu kali. Tapi kamu jangan kaget ya dengerin cerita saya.”
“Iya.. Iya.. Ayo donk cerita, Saya penasaran nih.” Pinta Anggun
“Bim-Bim itu cuek karena ditinggal mati ma pacarnya.” Terang Rahma
“Hah?? Kok bisa??” Kata Anggun kaget. “

“Gini ceritanya. Dulu Bim-Bim punya pacar, namanya Rusna. Mereka pacaran dari SMP, sekitar empat tahunn deh. Dulu mereka hampir aja mau tunangan. Rusna itu saudara kembarnya Viona. Rusna meninggal karena kecelakaan waktu dia mau jemput Bim-Bim. Bim-Bim syok banget waktu itu.

Dia merasa bersalah atas kematian Rusna en’ dia nggak terima kalau Rusna meninggal. Dia aja nangis histeris gitu, sampai-sampai jatuh pingsan waktu pemakaman. Sejak kematian Rusna, Bim-Bim ya jadi cuek en’ dingin gitu. Jangankan cowok yang deketin dia, cewek aja dia nggak peduli.” Cerita Rahma.

“Kasian juga ya si Bim-Bim. Oya, kok loe tahu banget sih soal mereka? Emangnya loe kenal ya ma Rusna?” tanya Anggun.

“Satu sekolah kenal lagi siapa Rusna. Cewek paling pinter en’ paling cool di sekolah. Dari SMP sampai sekarang Saya itu satu kelas ma mereka bertiga. Jadi Saya kenal banget ma Rusna. Waktu pemakaman Rusna aja nih, satu sekolah pada datang. Mereka sedih banget kehilangan seorang yang begitu membanggakan buat sekolah.” Terang Rahma

“Hmm. Rusna tipe cewek yang perfect ya. Pantas Bim-Bim nggak bisa lupain dia.” Gumam Anggun
“Iya. Sekarang kita ngerjain tugas dulu yuk, besok sudah harus di kumpulin nih.”
“Hayuu..”

Saat jam istirahat, Bim-Bim duduk seorang diri sambil membaca buku di taman sekolah. Kemudian Anggun menghampirinya.

“Hai Bim.” Sapa Anggun
“Ngapain loe kesini.” Kata Bim-Bim tampa mengalihkan matanya dari buku.
“Saya Cuma mau berteman sama loe kok, Bim. Kok loe sendirian, Viona mana?”
“Viona ke kantin.” Jawab Bim-Bim singkat
“Saya boleh ngomong sesuatu ama loe?” tanya Anggun
“Ngomong aja. Nggak perlu basa basi.”

“Bim, loe jangan cuek gitu donk. Loe hidup bukan untuk cuek mulu ke orang-orang.” Ucap Anggun.
“Apa peduli loe sih. Lagian loe juga nggak bakal ngerti kenapa Saya kayak gini.” Bentak Bim-Bim.
“Saya ngerti apa yang loe rasain. Tapi loe jangan terus-terusan terpuruk dengan keadaan ini.”
“Maksud loe apa? tahu apa loe soal saya?”

“Saya tahu semuanya. Rahma udah cerita semuanya ke saya. Loe kayak gini karena Rusna kan. Seharusnya loe bisa atasi kesedihan loe, Bim. Bukan dengan nyiksa diri loe kayak gini. Saya yakin Rusna pasti sedih kalau ngelihat loe kayak gini.”
“Loe nggak berhak ngomong kayak gitu ke saya. Itu urusan saya, bukan urusan loe.” Bentak Bim-Bim kemudian pergi meninggalkan Anggun yang berdiri terpaku menatap kepergiannya.

Bim-Bim tak bisa memejamkan matanya. Kata-kata Anggun tadi siang begitu melekat di kepalanya. Bim-Bim mulai berpikir, kata-kata Anggun ada benarnya. Tak seharusnya dia begitu cuek kepada orang-orang. Bim-Bim menyesal atas sikapnya ke Anggun tadi siang.

“Anggun kayaknya benar, nggak semestinya saya cuek en’ dingin ke orang-orang. Saya harus bisa ceria kayak dulu lagi. Saya yakin Rusna pasti udah tenang di sana. Besok Saya harus minta maaf sama Anggun atas sikap Saya ke dia tadi siang.” Gumam Bim-Bim.

Keesokan harinya di sekolah, anak-anak heran melihat tingkah Bim-Bim begitu juga Viona. Dia selalu menyapa orang-orang yang ditemuinya di sekolah. Mereka hanya angguk-angguk kepala bingung saat Bim-Bim menyapa mereka.

“Woy Bim, kesambet setan apa loe sampai berubah gitu. Biasanya loe cuek mululu ma orang-orang.” Ucap Viona
“Hehe.. Saya baru sadar Vin, nggak seharusnya kan saya cuek mululu sama orang-orang cuma gara-gara saya ditinggal Rusna.” Ungkap Bim-Bim

“Yups. Akhirnya saya bisa lihat senyum loe lagi.”
“Oya, loe lihat Anggun nggak? Saya mau minta maaf sama dia. Kemaren saya udah kasar banget sama dia.”
“Itu Anggun tuh, lagi sama Rahma. Kita samperin aja yuk.” Kata Viona sambil menunjuk dua orang gadis yang sedang duduk di taman sekolah. Mereka berdua pun menghampirinya.

“Hai Nggun.” Sapa Bim-Bim
“Hai juga Bim.” Kata Anggun. Rahma dan Anggun bingung melihat sikap Bim-Bim.
“Kata-kata loe kemaren ada benernya, Nggun. Nggak seharusnya saya bersikap antipati sama orang-orang. Saya mau minta maaf atas kejadian kemaren. Loe mau kan maafin saya. Oya Rahma, Saya juga mau minta maaf sama loe. Saya sering jutek ma loe.” Ucap Bim-Bim

“Iya Bim, kita maafin loe kok.” Kata Anggun dan Rahma sambil tersenyum.
“Makasih ya Nggun, loe udah ngerubah segalanya.” Kata Bim-Bim.
“Akhirnya Bim-Bim yang ceria kembali lagi.” Ucap Viona

Bim-Bim pun menjadi anak yang ceria dan bersemangat kembali. Semua orang senang melihat perubahan Bim-Bim. Akhirnya Mereka berempat pun menjadi sahabat yang paling bahagia.