Cerpen Remaja : Kekasih Gelapku Tewas Dijambret

Cerpen Remaja : Kekasih Gelapku TewasSiang itu di sebuah kantor kepolisian, seorang lelaki yang tampan bertubuh kekar tampak sedang gelisah. Lelaki itu sedang galau, galau memikirkan sesuatu yang membuat dia tak tahu harus berbuat apa.

Wandi tampak lemas. Barusan ditelepon sama pacar gelapnya Vera. Siapa yang tak mau menyimpan Vera? Tubuh aduhai dengan wajah manis adalah salah satu alasan Wandi berhubungan dengan Vera. Tapi sekarang Wandi bingung! Tak tahu harus berbuat apa.

Pacarnya yang seorang model majalah itu tiba-tiba menghubunginya di nomor telepon yang biasa di gunakannya untuk urusan kantor. Ternyata Vera bosan disimpan terus. Vera ingin tampil ke muka bersama Wandi kekasihnya yang adalah seorang komisaris polisi. Telepon itu putus begitu saja.

Siang itu Wandi sedang menangani sebuah kasus. Kasus jambret. Dua orang jambret itu sedang diproses di TKP. Mereka menjambret seorang perempuan muda yang sedang berjalan bersama nenek tua. Sang nenek tua langsung terkapar di jalan saat di jambret. Rupanya tas yang dipegangnya dilekatkan erat-erat di pergelangan tangannya. Sehingga pas di jambret, seketika itu juga si nenek tua terjerembab jatuh.

Apartemen Vera bukanlah sebuah apartemen mewah. Biasanya Vera tinggal di rumahnya bukan di apartemen ini. Tapi inilah tempat aman. Tempat para saksi disembunyikan. Hanya segelintir orang yang tahu apartemen ini. Hanya sebagian orang yang punya kuncinya. “Pass Key”, begitu biasanya para empunya kunci menyebut kartu plastik itu.

Vera kesal, dibantingnya telepon genggam tadi. Vera bosan. Hubungan dengan Wandi makin tak jelas. Karirnya juga tak menanjak semenjak berhubungan dengan Wandi. Apalagi akhir-akhir ini Vera curiga dengan perubahan tubuhnya. Vera takut dirinya hamil. Makanya buru-buru diteleponnya Wandi. Meskipun tak yakin Wandi akan melakukan permintaannya, Vera tetap berharap mudah-mudahan Wandi mau.

Wandi pulang ke rumahnya. Rumah itu rumah yang indah. Banyak pepohonan dan taman yang sedap dipandang. Diana dan Ichal keluar menyambut Wandi. Diana berumur 5 tahun dan Ichal berumur 3 tahun. Anak-anak yang ganteng dan cantik buah perkawinan Wandi dengan Dini selama hampir tujuh tahun.

Sarah tersenyum melihat Wandi. Wandi menghempas dirinya ke sofa. Pikirannya masih kalut. Diana yang berlari ingin duduk di pangkuan Wandi terpaksa menelan kecewa. Bapaknya lagi “nggak mood” saat itu. Ichal hanya sibuk dengan permainan balok kayu. Diana akhirnya bergabung dengan Ichal. Tapi Ichal ternyata tak ingin teman. Mereka ribut. Ichal menangis. Diana menangis. Wandi makin pusing.

Wandi bangkit dari sofa menuju pintu ruang tamu. Ditekannya tuts-tuts telepon genggam itu. Tak tahu siapa yang dia hubungi. Mimik mukanya tampak serius.

“Bagaimana? Sudah?” tanya Wandi. Terdengar suara berisik menjawab. Wandi tampak tersenyum. Pikiran galaunya tampaknya mendadak sirna. Dia kembali ke ruang tamu. Kembali menghempas dirinya di sofa itu. Sofa hadiah perkawinan dari mertuanya, orang tua Dini. Diseruputnya kopi panas buatan Dini. Dinyalakannya televisi menonton berita. Setelah itu Wandi pergi mandi.

“Siapa?” tanya Vera. Seharusnya tidak ada tamu siang itu. Biasanya Wandi memang datang di siang hari sekedar bertemu Vera. Melepas kangen. Melepas segalanya. Tapi siang itu tak ada janji bertemu Wandi.

“Kahar… saya disuruh pak Wandi..”

Vera membuka pintu. Tampak dua orang bercelana hitam dan berkemeja sekadarnya di luar. Keduanya masuk.

“Ada apa?” tanya Vera lagi. Rupanya keduanya diminta oleh Wandi untuk memberitahu Vera agar menyerahkan “pass key” kepada mereka. Vera tak boleh lagi menggunakan apartemen itu. Vera marah. Dia menolak menyerahkan kunci apartemen itu. Kedua orang tadi mengancam agar Vera menyerahkan saja kunci itu dan segera pergi meninggalkan apartemen. Tapi Vera tetap menolak. Vera mengancam berteriak. Kedua orang itu pergi keluar. Vera melirik lewat lubang intip yang ada di pintu. Benar, keduanya rupanya sudah pergi.

Bergegas diambil Vera tas tentengnya. Dimasukkannya semua barang miliknya ke dalam tas tadi. Vera keluar apartemen menuju kantornya. Di kantor, Vera tak lama. Rasa takut menggelayutinya. Jangan-jangan dua orang tadi akan kembali, pikirnya. Segera Vera keluar, mobil distarter. Menuju kos-kosan.

“Ady, halo Ady?” suara Vera terdengar ketakutan.

“Iya, Sis, ada apa?” suara itu suara Aldy rekan Vera di kantor.

“Kayaknya aku dibuntutin nih… dari tadi ada sepeda motor yang ngikut di belakang” jawab Vera lagi.

“Coba kamu belok terus belok lagi Sis, nanti cek apa masih diikuti apa tidak, atau coba minggir sebentar, lihat apa maunya mereka..” saran Aldy terdengar di telepon.

Vera tak mengikuti saran Aldy. Malah mobil itu dipacu makin cepat. Masuk kos-kosan, Vera melambat. Sejenak ditengoknya ke belakang. Tak ada sepeda motor tadi. Syukurlah, pikirnya. Mungkin hanya perasaanku saja. Mobil itu masih menyala di depan pagar. Vera turun hendak membuka pagar.

“Ahhh…” teriak Vera. Dua orang tiba-tiba muncul. Suara motor meraung keras. Dua orang dan satu motor. Satu orang memegang sejenis golok. Darah mengalir. Vera terjatuh.

“Lepas… lepas..” suara seorang yang lebih muda terdengar. Jatuhnya Vera rupanya menimpa orang yang diboncengnya. Masih sadar, Vera berusaha memegangi orang yang dibonceng itu.

“Tancap saja, nanti juga lepas sendiri…” sahut yang dibonceng. Motor meraung makin keras. Tubuh Vera terseret. Tapi Vera tetap berusaha bertahan. Akhirnya pegangan itu lepas seiring dengan regangnya sang nyawa.

Pagi itu, cuaca tampak cerah. Tak sedang musim hujan di kota ini. Berita demi berita berganti. Seorang model ditemukan tewas di jalan. Ada luka bacok, ada luka terseret.

Kontroversi merebak. Banyak kejanggalan katanya. Banyak misteri. Tak ada yang tahu kenapa Vera. Tak ada yang tahu kenapa Kahar dan kenapa Ade. Yang jelas Ade mengaku. Kahar otaknya, katanya. Keduanya masih ada hubungan darah. Paman dan keponakan katanya.

Rekening itu awalnya dibuka untuk dana tujuh belasan. Seorang bapak tua tampak menuju mesin ATM, mengecek saldo. Tersenyum puas. Uang itu cukup untuk sekedar hidup bertahun-tahun.

Koran-koran ramai memberitakan. Tapi tak ada yang mengungkapkan. Polisi hanya membuat satu pernyataan, “Terbunuhnya Vera murni kasus kriminal alias penjambretan belaka”, begitu katanya.