Sepenggal Cinta Mengoyakkan Indahnya Mata

Sepenggal Cinta Mengoyakkan Indahnya MataDialah Risma atau biasa dipanggil Imma. Cantik, manis, dan pintar. Irwan terkadang merasa minder apabila berada di dekat Risma. Irwan bisa dibilang beruntung sekali bisa dekat dan akrab dengan Risma. Meskipun Irwan agak telmi tapi Risma tidak pernah bosan untuk memberikan advice atau nasehat-nasehat yang membuat Irwan semangat dan bangkit kembali. Duh, Risma di mata Irwan adalah sebagai guru sekaligus cewek ‘super’. Belum ada yang bisa menandingi Risma. Baru kali ini kayaknya Irwan bisa menilai sosok cewek yang betul-betul baik dan sempurna. “Kau begitu sempurna di mataku kau begitu indah…..” begitu Irwan menyanyikan lagunya Andr and The Backbone setiap Irwan menghayalkan sosok Risma di kamarnya. Sampai tidak terasa sudah setahun persahabatan mereka berdua, tanpa disadari ada perubahan dalam diri Irwan. Risma bukan saja sebagai teman. Tapi lebih dari itu. Entah dari mana awalnya perasaan itu. Atau seringnya kebersamaan dapat menimbulkan cinta?

“Bisa juga begitu Wan” kata Bim suatu ketika mereka bertemu, ”karena sering bertemu bisa menimbulkan cinta. Tapi apa kamu nggak takut kalau persahabatan kamu rusak gara-gara cinta?” Bim mencoba memberi pandangan.

“Iya juga tapi mau bagaimana lagi Bim? Cinta kan nggak bisa ditahan kapan mau datangnya?”

“Benar, Wan, kamu tahu nggak? Cinta adalah api yang dingin. Siapa yang mendekatinya tidak akan terbakar tetapi tertangkap”

“Huu, omonganmu seperti profesor. Lagi encer, ya pikiran kamu?.”

“Iya dong, memangnya kamu, Wan! Tahunya cuma pacaran doang. Nggak tahu makna sebenarnya apa itu cinta ”

“Halah Bim….ini juga kamu lagi kadang-kadang pinternya. Cuma gara-gara tadi makan bakso Malang aja, kan mangkanya pikiran kamu encer?”

“Hahaha….!” Keduanya tertawa bersama melepas kejenuhan.

Hari itu Irwan merasa gelisah. Entah kenapa Risma begitu kuat melekat dalam pikirannya. Irwan mencoba untuk bersikap biasa seperti hari-hari sebelumnya. Huh, tetap tidak bisa juga. Sampai suatu ketika ada yang tidak beres terjadi pada Risma. Tadi dia menelpon Irwan dan cerita panjang lebar tentang perlakuan Agus. Irwan panas mendengarnya, Irwan cemburu. Berani-beraninya Agus nggodain Risma. Menyakiti Risma. Dalam kamus Irwan adalah jangan sampai Risma disakiti oleh siapapun.

“Kamu tenang ya, Im” bujuk Irwan kepada Risma. “Kamu ngak usah terlalu sedih begitu. Kan masih ada aku”

“Iya, makasih Wan” Terdengar isak tangisnya tersendat-sendat dari seberang sana. Irwan semakin terenyuh mendengarnya.

Dimatikannya handphone. Di pikirkannya baik-baik cara membalas sakit hati Risma. Hmm….Irwan sudah gelap mata. Tangannya mengepal keras. Dan benar keesokan harinya Risma mendengar kabar Agus sudah berada di rumah sakit. Mukanya babak belur, matanya bengkak, hidungnya berdarah dan masih banyak lagi. Tapi mengapa tiba-tiba Risma datang ke rumah Irwan malah melabraknya habis-habisan. Risma marah besar kepada Irwan.

“Pokoknya aku nggak mau menganggap kamu sahabat aku lagi. Aku nggak mau melihat kamu lagi, Wan. Kamu jahat!” begitu ancaman Risma sambil meninggalkan Irwan.

Irwan bingung. Belum sempat Irwan bertanya kenapa, Risma sudah pergi meninggalkan Irwan. Aduh, ada apa dengan Risma? Kok tiba-tiba marah seperti itu. Tidak biasanya Risma semarah itu. Hancur sudah. Semua kenangan manis waktu bersama Risma musnah. Tidak ada lagi cewek ‘super’ dalam diri Irwan. Tidak ada lagi cewek cantik sekaligus guru dalam diri Irwan. Sampai-sampai Irwan mendengar kabar Risma pacaran dengan Agus.

“Pantas saja Risma marah besar. Rupanya Risma nggak rela kalau Agus aku labrak?” bisik hati Irwan.

Bertambah pilu hati Irwan. Hilang harapannya untuk mendapatkan Risma. “Kenapa dulu tidak aku ungkapkan saja perasaan cintaku pada Risma?” Sekarang Irwan sudah benar-benar merasa kehilangan. pegangan.

Sejak itu Irwan menjadi banyak melamun. Apalagi ketika berpapasan dengan Risma di jalanpun Risma cuek saja. Seakan-akan tidak pernah mengenal Irwan. Irwan cuma bisa menatap Risma dari kejauhan. Tanpa bisa menggandeng lagi tangannya, tanpa bisa lagi bercanda dengan Risma. Gone with the wind. Terbang bersama angin.

Siang itu matahari begitu terik. Biasanya siang hari begini terasa begitu sejuk karena waktu itu berjalan bergandengan tangan bersama Risma. Sambil bercanda bersama sepanjang jalan. Terasa sekali Irwan kini sendiri. Entah sampai kapan sendiri itu terus berlanjut.

Tiba-tiba Lamunan Irwan buyar ketika di hadapannya telah hadir lima orang anak muda. Wajahnya sangar. Tubuhnya tinggi tegap.

“Heh, kamu Irwan, ya?” tanya salah seorang dari mereka. Irwan mengangguk. Belum sempat Irwan bertanya apalagi berpikir wajahnya sudah dihajar. Bak ! Buk! Brak! Aduh! Auw!. Huh, five in one!. Tidak tanggung-tanggung lima lawan satu. Jelas sekali Irwan sekarang yang babak belur. Masuk rumah sakit. Sepi. Sunyi. Di mana-mana serba putih termasuk perban di wajahnya. Hmm, kasihan Irwan. Kini hanya bisa tergolek lemah tak berdaya. Cuma ada seseorang wanita yang rajin menemani Irwan yaitu Ana. Teman sekelas Irwan. Setiap waktu Ana yang selalu menemani Irwan sambil membawa segala macam makanan dan buah-buahan. Cerita sana-sini untuk menghibur Irwan.

Tiba-tiba timbul dalam hati Irwan cewek super selain Risma. Betulkah Ana cewek super pengganti Risma? Ana yang selalu menemani Irwan di saat Irwan menderita, Ana yang selalu bercerita tentang mimpi-mimpi indah, tentang apa itu cinta. Ya, Ana yang telah menemukan Irwan dalam keterasingan. Dalam ketakberdayaan. Dalam kesendirian.

“Makasih ya, Na, kamu sudah menyempatkan waktu buat menemaniku” suara Irwan lemah. Sambil menahan sakit di bibirnya yang pecah terkena bogem mentah lima pemuda tempo hari.

“Ah, nggak usah sentimentil begitu. Aku ikhlas kok. Bukan saja karena aku sayang kamu, tapi karena aku hanya ingin menjadi orang yang kamu butuhkan di saat apapun” suara Ana serak karena tertahan oleh air mata yang membasahi pipinya.

“Maafkan aku Na, aku sudah tidak mempedulikan kamu selama ini?” kata Irwan sambil menyeka air mata Ana dengan telapak tangannya.

“Tidak apa apa, Wan. Aku menyadari itu. Kamu tidak mencintaiku”

Mata Irwan basah. Dipandanginya Ana. “Dalam bening bola matamu, kau pandang aku, dalam putihnya hati kita, entah aku yang membutuhkanmu atau kamu yang mencintaiku?” hati Irwan terus bergumam. Menilai-nilai apakah Ana telah hadir untuk mengusir kesepiannya, untuk mengisi relung hatinya yang paling dalam…?

Beruntung Irwan cepat sembuh. Seperti biasa Irwan berangkat ke kuliah namun tiba-tiba matanya menangkap dari kejauhan Agus dan komplotannya petentang-petenteng. Semakin angkuh sambil menggandeng Rika. “Cewek mana lagi tuh yang digandeng Agus?” Bisik hati Irwan. Pikirannya langsung tertuju kepada Risma. jangan-jangan telah terjadi sesuatu terhadap Risma. Terus berkecamuk. Gelisah. Hingga jam istirahat Irwan memintak ijin untuk pulang sekolah lebih cepat. Dan langsung ke rumah Risma.

Sampai disana benar juga telah terjadi sesuatu. Kelihatan Risma habis menangis. Matanya merah, basah oleh air mata.

“Agus sudah mutusin aku, Wan” suara Risma sambil menangis. Irwan sedih mendengarnya. “Aku terlalu bermimpi” kata Risma kembali. “Padahal aku nggak tahu cuma-cuma meraih mimpi. Dulu aku terlalu menaruh harapan-harapan manis kepada Agus, hingga aku tega meelupakan kamu, Wan. Sekarang aku menanggung akibatnya. Kamu dulu pernah memberikan pelajaran bagaimana caranya meraih mimpi tapi aku yang bodoh tidak mau menuruti kata-kata kamu. Sekarang pasti kamu nggak mau menerima aku lagi. Iya kan, Wan?”

Irwan kebingungan. Baru kali ini Irwan melihat Risma menangis. “Im, aku nggak pernah melihat matamu menangis saat kamu menatap angkuhnya dunia, bibirmu tak pernah berucap sesal saat kamu hadapi berjuta kegetiran. Namun sepenggal cinta telah mampu mengoyakkan indahnya matamu hingga kering airmata, sepenggal cinta telah mampu menggetarkan bibirmu untuk berucap cinta”

Tangan Irwan memeluk erat tubuh Risma. Ada rasa rindu bergelayut dalam dadanya. Ada rasa kangen bersemayam dalam hatinya. Pikirannya dipenuhi seribu tanya sejuta bimbang. Tiba-tiba terbayang wajah Retna. Cewek ‘super’ yang selalu menemani Irwan saat Irwan mengalami kesusahan, yang selalu memberi semangat saat Irwan patah semangat. Sekarang Irwan dihadapkan kembali pada sosok diri Risma, cewek ‘super’ yang sudah pertama kali sanggup membuat Irwan uring-uringan. Apa benar cinta sejati datang pada saat cinta pertama, dan cinta selanjutnya adalah cinta yang dibuat dengan perhitungan? Sekarang Irwan dituntut oleh dua kenyataan. Risma dan Ana. Mereka sama-sama cewek ‘super’. Sama-sama memberikan kesan manis. Searang Irwan yang merasa bodoh. Irwan tidak mampu meraih mimpi-mimpi manisnya. Irwan tidak punya lagi guru yang super yang bisa mengajarkan bagaimana caranya meraih mimpi, bagaimana caranya meraih harapan-harapan manis. Irwan tidak mampu.